Postingan

Cerpen Kontemplatif

Gambar
  Velland, Sang Bintang Panggung Fera Andriani Djakfar   "Jangan tunggu lama-lama,  nanti lama-lama..." Penyanyi itu mengarahkan mic ke arah penonton. "Aku diambil oraaang...!!" Teriak penonton dengan histeris. Namanya berkilau di layar-layar gawai, di poster-poster digital, dan di bibir para penggemar. Suaranya terdengar di mana-mana, merdu, powerful, sejenak mengalihkan telinga dari hiruk pikuk berita buruknya dunia. Dia digadang-gadang sebagai legenda baru dalam dunia dangdut. Velland namanya. Meski hanya runner-up dalam kompetisi dangdut paling bergengsi di negeri ini, namanya justru melesat melampaui juara pertama. Orang-orang menyukainya bukan semata karena suara emasnya, melainkan karena keseluruhan dirinya: multi talenta, rendah hati, sopan dalam tutur, dan dikenal rajin beribadah. Sesuatu yang nyaris langka di dunia entertainment yang identik dengan gemerlap duniawi. Dalam setiap wawancara, Velland selalu menjawab dengan sopan, tidak malu menyebut ...

Cerpen Ter-ater

Gambar
  Ter-ater  Hujan turun tipis sejak subuh, membasahi halaman permukiman padat penduduk di kampung kecil pesisir Madura itu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma opor ayam yang mengepul dari dapur-dapur warga. Bulan Sya’ban selalu menghadirkan suasana yang berbeda: lebih hening, lebih hangat, sekaligus lebih sibuk. Di kampung ini, akhir Sya’ban, menjelang Ramadan, berarti satu hal yang tak pernah dilupakan—ter-ater. Aisyah berdiri di depan dapur, menatap ibunya yang sedang membungkus nasi dengan daun pisang. Di sampingnya, mangkuk besar berisi opor ayam mengepul pelan. Tangannya cekatan, seolah telah menghafal gerak yang sama sejak puluhan tahun lalu. “Sudah lengkap?” tanya Aisyah pelan. Ibunya mengangguk. “Tinggal antarkan ke rumah Bu Ramlah dan Pak Karim. Jangan lupa, yang ke rumah Pak Karim ditambah telur rebus. Kamu tahu sendiri, cucunya paling suka.” Pak Karim... Hm, sosok itu. Sesepuh kampung yang sejak dulu selalu bersemangat menjodoh-jodohkannya dengan Armu, ponakanny...

Cerbung Palestina 2

Gambar
  Pelajaran Di Atas Lautan   Beberapa jam sebelum kapal berlabuh…. “Daratan… daratan…!”   Teriak seorang anak lelaki dengan riangnya, berlarian di sepanjang dek kapal dan   masuk ke dalam kabin yang berisi keluarga besarnya. Lalu dia berteriak memanggil kakak lelakinya. “Ehud, lihat… itu daratan. Kita hampir sampai….” “Jangan berteriak, Yitzhak! Nanti nenek bisa terkejut mendengar suaramu,” nasihat kakaknya. Namun, perempuan tua bermata tajam itu rupanya terlanjur terkejut dan membuka matanya. Kondisi perempuan tua itu begitu payah, karena kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing begitu lama di lautan. Beberapa Negara menolak kedatangan mereka. Dengan pelan, nenek itu duduk, lalu memanggil seluruh keluarganya untuk merapat di sekelilingnya. “Apa yang akan Savta* sampaikan?” Tanya Yitzhak tidak sabar. Dia ingin segera keluar lagi melihat proses kapal berlabuh. “Sebentar lagi kita akan sampai di tanah yang dijanjikan. Eretz Israel. Di sana kita akan men...

Cerbung Palestina 1

Gambar
Source: https://www.expedia.com/pictures/middle-east/israel/haifa-port.d553248621558034722 1. Senja di Pelabuhan Haifa “Apakah kau mau ikut ke pelabuhan?” Tanya Taher. “Memangnya ada apa di sana?” “Hm, kau terlalu banyak berdiam di rumah, Sayang. Tidakkah kau dengar berita bahwa hari ini ada kapal yang akan merapat?” “Namanya juga pelabuhan, ya tentu saja banyak kapal merapat,” komentar Widad sambil melipat setumpuk pakaian di depannya. Suaminya pun tertawa, menyadari betapa dia tidak detil menjelaskan sesuatu. “Kapal yang akan berlabuh ini berisi para pengungsi Yahudi dari Eropa. Ratusan orang berada di atas kapal itu, konon katanya mereka ditolak untuk berlabuh di manapun.” “Jadi, mereka mau berlabuh di Haifa? Pilihan yang cerdas! Mungkin mereka tahu jika penduduk sini sangat pemurah dan melayani tamu dengan baik. Semoga saja mereka menjadi tamu yang tau diri, setelah diusir dari sana sini!” Ucap Widad ketus. “Sayang, kamu kenapa kok kasar sekali? Ingatlah, namamu Wid...

Serial Addun dan Addin: Brownies dan Lego

Gambar
  Brownies dan Lego Gambar dari https://indobrickville.com/everything-lego Dengan wajah masam, Addun langsung nyelonong masuk ke rumah kontrakan Addin. Wajahnya kusut seperti sedang menahan kekesalan. Melihatnya, Addin segera memberi minum lalu bertanya. “Ada apa, sih? Kok kayaknya lagi susah banget. Liburan masih panjang, lho!” “Bukan susah, Din. Lebih tepatnya aku kesal, emosi, marah, tapi gak berdaya.” “Hm… ada apa, sih?” “Gini nih, aku kan lagi komentar di salah satu postingan tentang muallaf. Aku cuma nulis ucapan selamat datang kepada saudara baru, dan selamat mendapatkan hidayah, gitu aja sih. Eh, ternyata ada yang menanggapi, sepertinya dia nonis.*  Katanya, ‘Apaan hidayah? Agama ribet banyak aturan’, begitu tulisnya. Aku kan kesel banget, tapi mau membalas gak berdaya. Malah ada sedikit bisikan dalam hati, Eh, bener juga, ya. Banyak sekali aturan dalam Islam”, kata Addun dengan jujur. “Istighfar dulu, Dun…!” “Astaghfirullah…! Iya, aku sadar ini godaan seta...

Memoar Pelatihan Menulis Bersama Para Perempuan Hebat Fatayat NU Bangkalan

Gambar
  Hari Minggu tanggal 9 Juli 2023, saya mengisi pelatihan menulis yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Fatayat NU Bangkalan. Sedikit informasi, Fatayat NU adalah salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama, sebagai wadah aktualisasi dan aktivitas bagi kalangan perempuan muda. Jadi, yang ada dalam benak saya, peserta pelatihan ini nantinya adalah para mahasiswi, pelajar, santriwati, ataupun ibu-ibu muda yang memang sudah memiliki kebiasaan menulis. Dari sekian banyak bahan pelatihan menulis, salah satu pengurus Fatayat memberikan usul via WA agar saya mengisi tentang esai. Maka saya pun menyusun materi yang akan saya sampaikan dalam pelatihan, yaitu sekilas tentang artikel dan esai. Saya hanya menyiapkan poin-poin penting saja, dan berharap nanti akan ada pengembangan pada saat pelatihan berlangsung. Hari H pun tiba. Fakhriyatun Nisa, salah satu panitia yang sudah saya kenal sejak lama, menghubungi saya agar menunda kedatangan ke lokasi hingga 1 jam dari jadwal semula, kare...

Cerpen Kemerdekaan

Luka Merah Putih Oleh Fera Andriani Djakfar Setiap bulan Agustus, kawasan perumahan yang ditempati Pak Rohman tampak lebih cantik. Jalanan dan selokan menjadi makin bersih. Hampir tiap teras rumah dihiasi bunga-bunga yang berwarna warni. Bendera-bendera kecil berwarna merah putih dan lampu-lampu hias menambah semarak suasana perumahan tersebut. Tapi semua pemandangan yang tampak indah itu tidak dapat menggantikan kegundahan yang dirasakan Pak Rohman. Beberapa tahun terakhir dia mengidap sindrom tanpa nama yang selalu jatuh pada bulan Agustus. "Assalamu'alaikum...!" Terdengar suara lelaki menguluk salam. Dengan tertatih, Pak Rohman bangkit dari kursi goyangnya dan beranjak ke teras. Pada pagi hari dia memang berada di rumah seorang diri karena anak dan menantunya bekerja, sementara cucu-cucunya ke sekolah. "Wa'alaikum salam...!" Jawab Pak Rohman dengan suara agak bergetar. Maklumlah, pita suaranya sudah usang, setua dirinya yang berusia lebih dari...